Bahaya Kezaliman

Kezaliman adalah menempatkan segala sesuatu tidak pada tempatnya, dengan kata lain berpindah dari kebenaran kepada kebathilan. Kezaliman ini merupakan bentuk dari al-jaur (penyimpangan), karena merupakan penyimpangan dari keadilan.

Macam macam kezaliman :

Sebagian Ulama’ mengatakan bahwa kezaliman ada 3 macam:

  1. Kezaliman yang terjadi antara manusia dengan Allah swt; yang paling buruk adalah kemusryikan dan kemunafikan, karena itu Allah berfirman:

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَـٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُ ۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ‌ۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ۬ (١٣)

Dan [ingatlah] ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan [Allah] sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Qs Luqman 13)

Dan itulah yang dimaksud dalam firman Allah swt:

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ڪَذِبًا‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ يُعۡرَضُونَ عَلَىٰ رَبِّهِمۡ وَيَقُولُ ٱلۡأَشۡهَـٰدُ هَـٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَىٰ رَبِّهِمۡ‌ۚ أَلَا لَعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّـٰلِمِينَ (١٨)

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan mereka dan para saksi [4] akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka”. Ingatlah, kutukan Allah [ditimpakan] atas orang-orang yang zalim. (Qs hud :18)

  1. Kezaliman antara sesama manusia. Ini yang dimaksud dalam firman Allah swt:

وَجَزَٲٓؤُاْ سَيِّئَةٍ۬ سَيِّئَةٌ۬ مِّثۡلُهَا‌ۖ فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُ ۥ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّهُ ۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ (٤٠)

Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa mema’afkan dan berbuat baik [1] maka pahalanya atas [tanggungan] Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (Qs Al-Syura : 40)

  1. Kezaliman seseorang terhadap dirinya sendiri, Allah swt berfirman:

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَـٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٌ۬ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡہُم مُّقۡتَصِدٌ۬ وَمِنۡہُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٲتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٲلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡڪَبِيرُ (٣٢)

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada [pula] yang lebih dahulu berbuat kebaikan [1] dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (Qs Fathir : 32)

Juga firman Nya swt melalui lisan Musa as:

قَالَ رَبِّ إِنِّى ظَلَمۡتُ نَفۡسِى فَٱغۡفِرۡ لِى فَغَفَرَ لَهُ ۥۤ‌ۚ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ (١٦)

Musa berdo’a: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.( Qs Al Qashash : 16)

Ketiga macam kezaliman ini pada hakikatnya adalah kezaliman terhadap diri sendiri, karena manusia sejak pertama kali berniat melakukannya, berarti ia telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri. Al Dzahabi rahimahullah berkata: “Kezaliman bisa terjadi dengan memakan harta manusia atau merampasnya secara aniaya, atau dengan melakukan pemukulan, cacian, melanggar hak, serta bertindak lalim terhadap kaum lemah”.

Bahkan Al Dzahabi rahimahullah memasukannya sebagai khaba’ir (dosa dosa besar). Setelah menyebutkan ayat ayat dan hadist yang berisi ancaman terhadap para pelaku kezaliman, ia menukil perkataan sebagian salaf: “Janganlah kamu menzalimi orang lemah, sehingga kamu akan menjadi seburuk-buruk orang kuat”. Setelah itu ia memaparkan beberapa bentuk kezaliman, diantaranya; merampas harta anak yatim, sengaja mengulur-ulur hak orang lain (seperti dalam pelunasan hutang) padahal ia mampu untuk segera menunaikannya, menzalimi istri dalam haknya seperti mahar, nafkah dan pakaian, menzalimi pekerja dengan menahan upahnya. Di antara bentuk kezaliman yang nyata adalah tidak adil dalam pembagian atau penilaian sesuatu, bahkan Ibnu Hajar memasukkannya dalam dosa-dosa besar!

Banyak Nash yang mencela kezaliman, diantaranya:

Allah swt berfirman:

وَتِلۡكَ ٱلۡقُرَىٰٓ أَهۡلَكۡنَـٰهُمۡ لَمَّا ظَلَمُواْ وَجَعَلۡنَا لِمَهۡلِكِهِم مَّوۡعِدً۬ا (٥٩)

Dan [penduduk] negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka. Qs Al Kahfi: 59

وَمَا ظَلَمۡنَـٰهُمۡ وَلَـٰكِن كَانُواْ هُمُ ٱلظَّـٰلِمِينَ

Dan tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Qs Al Zukhruf : 76

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ فَيُوَفِّيهِمۡ أُجُورَهُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ (٥٧)

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Qs Ali Imran :57

فَإِنۡ أَعۡرَضُواْ فَمَآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ عَلَيۡہِمۡ حَفِيظًا‌ۖ إِنۡ عَلَيۡكَ إِلَّا ٱلۡبَلَـٰغُ‌ۗ وَإِنَّآ إِذَآ أَذَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ مِنَّا رَحۡمَةً۬ فَرِحَ بِہَا‌ۖ وَإِن تُصِبۡہُمۡ سَيِّئَةُۢ بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡ فَإِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ كَفُورٌ۬ (٤٨)

Dan kamu akan melihat mereka dihadapkan ke neraka dalam keadaan tunduk karena [merasa] hina, mereka melihat dengan pandangan yang lesu. Dan orang-orang yang beriman berkata: “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan [kehilangan] keluarga mereka pada hari kiamat [1]. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang zalim itu berada dalam azab yang kekal. Qs Al Syura : 45

Banyak sekali ayat dalam Al Quran yang menjelaskan kezaliman seseorang hamba kepada dirinya sendiri. Dari abu Musa al-Asy’ari rahimahullah, dia berkata, Rasulullah swt bersabda :

“Sesungguhnya Allah benar-benar akan memberi tangguh bagi orang yang zalim, hingga jika Dia mengazabnya, maka Dia tidak akan melepaskannya. (Abu Musa) berkata, ‘kemudian Nabi membaca ayat: “Dan Begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azabnya itu sangat pedih lagi keras (QS Huud : 102)” HR Bukhari Muslim.

Sedangkan dalam Hadist :

“ Jauhilah kezaliman, karena ia merupakan kegelapan pada hari kiamat!” (HR Muslim).

Dari Aisyah ra bahwasannya ia berkata kepadaAbu Salamah bin Abdirrahman ra – saat itu ada perselisihan antara dirinya dan orang lain: “ Wahai abu salamah! Jauhilah tanah itu, karena Nabi saw bersabda:

“Siapa yang berbuat zzalim sekalipun hanya sejengkal tanah, maka akan dikalungkan ke lehernya dari 7 lapis bumi”( HR Bukhari dan Muslim).

Muawiyah ra pernah berkata:

“Sesungguhnya aku merasa malu apabila menzalimi orang yang tidak memiliki pembela atasku selain Allah!”.

Yazid bin Hatim ra berkata: “Aku tidak pernah merasa takut sedikitpun seperti ketakutanku pada orang yang aku zalimi, sementara aku menyadari bahwa tidak ada penolong baginya selain Allah, sehingga orang itu mengatakan ‘Cukuplah Allah bagiku, Allah akan menjadi penengah antara diriku dan kamu’.”

Suatu ketika Ali Bin Fudhail rahimahullah menangis, maka ia ditanya: “Mengapa kamu menangis?” Ia berkata : “Aku menangis terhadap orang yang menzalimi diriku tatkala kelak ia dihadapan Allah swt sementara ia tidak memiliki hujjah.”

Berkata Abu Darda’ ra: : “( Berhati-hatilah) Hindarilah air mata anak yatim , serta do’a orang yang teraniaya, karena sesungguhnya ia akan diangkat (ke langit) pada malam hari ketika manusia sedang tidur lelap.”

Ada juga yang mengatakan: Kezaliman ada tiga; kezaliman yang tidak terampuni, kezaliman yang tidak akan didiamkan, dan kezaliman yang diampuni dan tidak akan dituntut.

Adapun kezaliman yang tidak diampuni adalah syirik kepada Allah swt, kita berlindung kepada Allah swt dari syirik. Allah swt berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٲلِكَ لِمَن يَشَآءُ‌ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفۡتَرَىٰٓ إِثۡمًا عَظِيمًا (٤٨)

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari [syirik] itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.Qs An Nisa – 48

Adapaun kezaliman yang tidak akan didiamkan adalah kezaliman hamba terhadap sesamanya.

Sedangkan kezaliman yang diampuni dan tidak akan dituntut adalah kezaliman terhadap dirinya.

Pernah ada yang lewat di depan orang yang disalib oleh al Hajjaj, lalu dia berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya kelembutanmu terhadap orang yang berbuat zalim sungguh telah mencelakakan orang yang teraniaya!”. Lalu ia tidur di malam itu dan bermimpi bahwa kiamat telah datang, seolah-olah ia sudah masuk surg. Kemudian dia melihat orang yang disalib tersebut berada di surga tertinggi, tiba tiba ada suara yang berseru: “ Kelembutanku kepada orang yang zalim, bisa menghantarkan orang yang dizalimi berada pada surga tertinggi.”

Sebab-sebab Kezaliman

  1. Setan

Allah swt berfirman:

ٱسۡتَحۡوَذَ عَلَيۡهِمُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ فَأَنسَٮٰهُمۡ ذِكۡرَ ٱللَّهِ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ حِزۡبُ ٱلشَّيۡطَـٰنِ‌ۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱلشَّيۡطَـٰنِ هُمُ ٱلۡخَـٰسِرُونَ (١٩)

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi. Qs Al Mujadillah : 19

  1. Nafsu yang mengajak kepada keburukan

Allah swt berfirman:

وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِىٓ‌ۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ‌ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬ (٥٣)

Dan aku tidak membebaskan diriku [dari kesalahan], karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Qs Yusuf : 53

  1. Hawa nafsu

Allah swt berfirman:

وَٱصۡبِرۡ نَفۡسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ رَبَّہُم بِٱلۡغَدَوٰةِ وَٱلۡعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجۡهَهُ ۥ‌ۖ وَلَا تَعۡدُ عَيۡنَاكَ عَنۡہُمۡ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَلَا تُطِعۡ مَنۡ أَغۡفَلۡنَا قَلۡبَهُ ۥ عَن ذِكۡرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَٮٰهُ وَكَانَ أَمۡرُهُ ۥ فُرُطً۬ا (٢٨)

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka [karena] mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. Qs Al Kahfi : 28

Dampak Kezaliman

Kezaliman mendatangkan kemurkaan Rabb, dan berbagai macam siksaan bagi pelakunya, serta membinasakan Negara. Orang zalim terhalang dari semua bentuk syafa’at Rasulullah saw. Membiarkan orang berlaku zalim akan merusak tatanan masyarakat. Kezaliman merupakan tanda kelam dan kerasnya hati serta kecil dan hinanya orang zalim di sisi Allah swt. Tidaklah nikmat pemilik dua kebun hilang kecuali akibat kezalimannya.

وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا كَمَآءٍ أَنزَلۡنَـٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخۡتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلۡأَرۡضِ فَأَصۡبَحَ هَشِيمً۬ا تَذۡرُوهُ ٱلرِّيَـٰحُ‌ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ مُّقۡتَدِرًا (٤٥) ٱلۡمَالُ وَٱلۡبَنُونَ زِينَةُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَٱلۡبَـٰقِيَـٰتُ ٱلصَّـٰلِحَـٰتُ خَيۡرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابً۬ا وَخَيۡرٌ أَمَلاً۬ (٤٦)

Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; [1] ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, (35) dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku di kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu”. (36) Qs Al Kahfi : 35 36

Penyesalan orang yang berbuat zalim setelah hilang kesempatan tidaklah berguna :

وَيَوۡمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيۡهِ يَقُولُ يَـٰلَيۡتَنِى ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلاً۬ (٢٧)

Dan [ingatlah] hari [ketika itu] orang yang zalim menggigit dua tangannya [5], seraya berkata: “Aduhai kiranya [dulu] aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.”Qs Al Furqan 27

Menggigit tangan (jari) maksudnya menyesali perbuatannya.

Kezaliman termasuk kemaksiatan yang disegerakan siksanya di dunia. Kezaliman itu merupakan pelanggaran terhadap hak orang lain, maka bagaimana kelak nasib orang yang berbuat zalim atau aniaya ketika tangan-tangan orang yang terzalimi terangkat berdoa kepada Allah swt. Allah berfirman (dalam hadist Qudsi):

“Demi kemuliaan dan Keagungan Ku, pasti Aku akan menolongmu sekalipun itu pada waktu mendatang”.

Bertakwalah kepada Allah dan jujurlah pada dirimu, bersegeralah mengembalikan semua bentuk kezaliman kepada pemiliknya sebelum datang hari yang tidak akan berguna penyesalan.

Hal Hal yang bisa membantu meninggalkan kezaliman dan menghilangkannya :

  1. Selalu ingat bahwa Allah bersih dari Kezaliman. Allah swt berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظۡلِمُ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ۬‌ۖ وَإِن تَكُ حَسَنَةً۬ يُضَـٰعِفۡهَا وَيُؤۡتِ مِن لَّدُنۡهُ أَجۡرًا عَظِيمً۬ا (٤٠)

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar . Qs An Nisa 40

تِلۡكَ ءَايَـٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّ‌ۗ وَمَا ٱللَّهُ يُرِيدُ ظُلۡمً۬ا لِّلۡعَـٰلَمِينَ (١٠٨)

Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan tiadalah Allah berkehendak untuk menganiaya hamba-hamba-Nya. Qs Ali Imran 108

  1. Melihat buruknya akibat yang akan diterima oleh orang yang zalim (di akhirat).

وَإِن مِّنكُمۡ إِلَّا وَارِدُهَا‌ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتۡمً۬ا مَّقۡضِيًّ۬ا (٧١) ثُمَّ نُنَجِّى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّنَذَرُ ٱلظَّـٰلِمِينَ فِيہَا جِثِيًّ۬ا (٧٢)

Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. (71) Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut. (72). Qs Maryam 71 72

  1. Tidak berputus asa terhadap rahmat Allah swt.

يَـٰبَنِىَّ ٱذۡهَبُواْ فَتَحَسَّسُواْ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَاْيۡـَٔسُواْ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ‌ۖ إِنَّهُ ۥ لَا يَاْيۡـَٔسُ مِن رَّوۡحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡكَـٰفِرُونَ (٨٧)

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. Qs Yusuf 87

Juga hadist tentang orang yang telah membunuh 99 jiwa, dan orang yang berkata: “Apabila Allah telah menentukan atas diriku, pasti Dia akan mengazabkundengan siksaan yang tidak akan diperuntukkan kepada seseorangpun dari manusia ini “. HR Bukhari Muslim, dan yang lainnya menjadi syahid terhadap makna hadist ini.

  1. Membayangkan hari diputuskannya perkara pada hari kiamat. Allah swt berfiman:

وَنُفِخَ فِى ٱلصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَن فِى ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا مَن شَآءَ ٱللَّهُ‌ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخۡرَىٰ فَإِذَا هُمۡ قِيَامٌ۬ يَنظُرُونَ (٦٨) وَأَشۡرَقَتِ ٱلۡأَرۡضُ بِنُورِ رَبِّہَا وَوُضِعَ ٱلۡكِتَـٰبُ وَجِاْىٓءَ بِٱلنَّبِيِّـۧنَ وَٱلشُّہَدَآءِ وَقُضِىَ بَيۡنَہُم بِٱلۡحَقِّ وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ (٦٩) وَوُفِّيَتۡ كُلُّ نَفۡسٍ۬ مَّا عَمِلَتۡ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِمَا يَفۡعَلُونَ (٧٠)

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu [putusannya masing-masing]. (68) Dan terang benderanglah bumi [padang mahsyar] dengan cahaya [keadilan] Tuhannya; dan diberikanlah buku [perhitungan perbuatan masing-masing] dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan. (69) Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa [balasan] apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan. Qs Az Zumar 68 – 70

  1. Dzikir dan Istighfar, Allah swt berfirman:

وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُواْ فَـٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓاْ أَنفُسَہُمۡ ذَكَرُواْ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّواْ عَلَىٰ مَا فَعَلُواْ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ (١٣٥)

Dan [juga] orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri [1], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Qs Ali Imran135

  1. Menahan diri dari kezaliman dan mengembalikan hak kepada pemiliknya. Taubat seseorang sebenarnya adalah menyesali dengan hati, berhenti dari perbuatannya (dosa dan kezaliman),  serta lisannya memohon ampun dan berupaya mengembalikan setiap hak kepada pemiliknya. Barangiapa menzalimi saudaranya seperti pada harta atau kehormatan, maka hendaknya dia meminta kerelaannya saat itu juga, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi selain kebaikan dan keburukan, sebagaimana dijelaskan dalam hadist shahih.

Oleh : dr. Sa’id Abdul Azhim

(Universitas Qatar)

Diambil dari Rubrik Cahaya Hati QIBLATI Edisi 3 tahun II Desember 2006

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: